PASAL 2
( TURUNNYA MANUSIA KE ALAM YANG PALING BAWAH )
Ketika
Allah menciptakan Ruh Al Qudsi dalam wujud yang terbaik di alam Lahut,
maka Allah berkehendak menurunkan manusia ke alam yang terendah untuk
menyempurnakan kemanusiaannya dan pendekatannya kepada Allah di "Maq'adi
Sidqin 'Inda Malikin Muqtadir". Itulah maqam para Wali dan para Nabi.
Pertama-tama Allah menurunkan Ruh Al Qudsi (Ruh termurni) yang
diciptakan dari Nur Muhammad ke alam Jabarut dengan membawa Bibit
Tauhid, maka dititipkan dari cahayanya di alam tersebut, dan dibalut
dengan pakaian cahaya (balutan cahaya). Begitu pula perpindahan dari
alam Jabarut ke alam Malakut dan dari alam Malakut ke alam Mulki. Di
setiap alam yang tiga ini, Allah melapisi Ruh Al Qudsi dengan
lapisan-lapisan sampai ke lapisan ‘Mulkiyah’ yang disebut ‘Qiswah
Unsuriyah’, agar jasad tidak terbakar oleh Ruh Al Qudsi. Lapisan yang
dibalutkan di alam Jabarut disebut ‘Ruh Sulthani’. Lapisan di alam
Malakut disebut ‘Ruh Sairani Rawani’. Dan lapisan di alam Mulki disebut
‘Ruh Jismani’.
Tujuan
utama didatangkannya manusia ke alam terendah ini, agar manusia
berupaya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai darajat,
dengan menggunakan hati dan jasad. Maka ditanamkan Bibit Tauhid di
ladang hati agar tumbuh menjadi Pohon Tauhid yang akarnya tertanam di
dalam rasa dan menghasilkan Buah Tauhid untuk mencapai ridha Allah
Ta'ala. Bibit Syari'at ditanamkan di ladang hati dan akan tumbuh menjadi
Pohon Syari'at. Buahnya adalah Buah Darajat.
Kemudian
Allah memerintahkan Ruh dengan seluruh lapisannya untuk masuk ke dalam
jasad dan Allah menentukan tempatnya masing-masing. Tempat Ruh Jismani
adalah di dalam jasad, antara daging dan darah. Tempat Ruh Al Qudsi
adalah Rasa. Setiap Ruh mempunyai Hanut (tempat) di daerah keberadaannya
dan bekal/alat untuk pengolahannya serta keuntungan/hasil pengolahannya
dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara
tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. Mereka mengharapkan perjuangan
yang tidak sia-sia.
Wajib
bagi semua manusia untuk mengetahui bagaimana cara mengolah dirinya,
sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta
pertanggungjawabannya di hari Qiyamat.
Firman Allah Ta'ala dalam surat Al 'Adiyat ayat 9-10:
"Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada".
Firman Allah dalam surat Al Isr'a ayat 13:
"Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya".
Komentar
Posting Komentar